Muslimah Millenials

Aprillia Tendry Ardiyanti (01 Agustus 2019)

 

Muslimah High Class. Menarik untuk dibahas. Tema kita kali ini simple tapi tak se-simple untuk ‘menjadi’. Banyak orang merasa cukup dengan ber-muslimahnya. Cukup dengan berbusana muslimah? Cukup dengan pengetahuannya tentang muslimah? Cukup dengan perkumpulan para muslimah? Etc. And I say, NO! Ooooh ayolah dunia terlalu sempit jika kita membatasinya, mengapa tidak kita explore semua tentang What is the real High Class for Muslimah?

High class …. ?? Berkualitas tinggi…?? sejenak kuresapi kata-kata tersebut. Well, setelah aku menyelam pada beberapa artikel. Banyak kutemukan makna dianataranya High class in personality? High class in Fashionable? High class in educational? High Class in levelisasi? High class in moodbooster? And bla bla bla…

Kusadari, Tak cukup untuk meresapinya karna makna high class begitu kompleks. Setiap orang memiliki standarisasi tersendiri dalam memaknai untaian kata tersebut dengan menilik dari sudut pandang yang berbeda pula.  Ada yang menarik disini ketika high class bersubjekkan Muslimah, ada sesuatu yang special di sana.. ya Muslimah High Class atau Muslimah berkelas atau muslimah berkualitas tinggi.

Hmmm Terbayang kaaan High Class-nya versi muslimah ?? Dimana seorang muslimah berkelas itu sosok yang menjadikan kecintaannya pada Allah dan Rasul-Nya adalah prioritas. Ia akan menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segala kecintaannya pada dunia. Akhlaknya berwangi kebaikan, tutur katanya lembut dan berkualitas, senantiasa menjaga diri dan kehormatannya, hadirnya memberikan perubahan positif, menebar manfaat setiap detik,  berwawasan luas, multi talent, menginspirasi, berkarya dan berdaya.

UuuwWaWww kalo boleh kukatakan itu mah muslimah high class banget..! sedangkan aku mah apa atuh..?

Shalat aja kadang telat, belum lagi kalo gak khusyuk terus lupa rakaat. Apalagi shalat terburu-buru mengejar waktu rapat hingga tilawah pun tak sempat… boro-boro hafalan Quran Ditambah lagi tahajjud tertunda karna lelah beragenda,  astagfirullahhal’adziim, dasar aku.

Hamba dengan segunung kesalahan yang dengan tak tahu diri ingin masuk syurga.

Hamba yang belum pantas masuk syurga tapi enggan akan panasnya neraka.

Mau ku taruh mana mukaku di hadapan Allah? katanya Cinta Allah nyatanya perintah Allah saja di nomor dua kan atau dinomor sekian. Katanya cinta Rasul nyatanya Sunnahnya jarang dilaksanakan. Astagfirullah..

Ibadah pas-pasan tapi kuliah kerja organisasi tanpa bosan. Dengan alasan berbekal untuk masa depan sedang bekal untuk hari esok (yang belum tentu masih bernafas) masih begitu-gitu aja. Astagfirullah wahai diri…

Kualitas dan kuantitas Ibadah nurun gak malu (karna Cuma Allah yang Tahu) , tapi malu banget  jika IPK (karna banyak orang yang tahu). Astagfirullah haladzim ya Allah

Alquran yang memuliakan justru kalah saing dengan Gadget yang bisa menghinakan. Iyaa tau.. tapi nyatanya seolah belum pernah mendengar nasehat itu dan tak bisa lepas dari sebuah besi yang dengannya bisa menghadirkan beribu maksiat jika tak mampu mengendalikan. Astagfirullah ada apalagi dengan diri ini..

Mengontrol emosi pun belum berstandar high class. Ada yang berbeda pendapat atau jalan dengan kita langsung cusss baper, ngambek, diemm, mager, dan parahnya lagi pergi jauh (ke negri entah berantah) tanpa menyelesaikan masalah. “Duhhh sadar wahai diri, bukan anak kecil lagi bukan seseorang yang terus minta dipahami tapi belajar memahami lingkungan sekitar dan merendahkan ego.” Iyaaa tau… tapi tetep aja diri ini susah berubah. Astagfirullah betapa kakunya hati ini… astagfirullah…

Bangun pagi, masak bersih-bersih aja masih malas. Kepekaan terhadap diri sendiri juga belum high class. Gimana mau peka sama kehidupan social di masyarakat, Negara dan jangkauan yang lebih luas? Astagfirullah ….

Dan masih banyak astagfirullah astagfirullah astagfirullah lainnya yang tentu mencerminkan jauh dari bau Syurga. Astagfirullah haladzim…

***

            Pernah kumendengar ceramah bahwa seorang muslim itu cirinya tak pernah berhenti berusaha. Selalu berusaha memperbaiki diri, berusaha menjadi lebih baik dan senantiasa merasa bahwa diri ini penuh dosa sehingga kita taubat yang sebenar.

            Membuka tirai sejarah shahabiyah yang sudah tentu cocok disebut muslimah high class sejati. Yaa banyak yang bisa kita jadikan qudwah (teladan). Ada bunda Khadijah, seorang muslimah yang sabar, setia, dan muslimah entrerpreneur. Ada Ummu Umarah seorang prajurit muslimah, yang dijuluki sang singa merah sebagai tamengnya Rasulullah. Ada Bunda Aisyah yang cerdas, cantik, dan shaleh. Ada Fatimah yang hidup dalam ketaqwaan dan kesederhanaan. Ada Maryam sosok muslimah yang sangat menjaga kehormatannya. Ada Asiyah sang Ratu Mesir yang teguh pendirian. ada Juwairiyah yang dzikir tak pernah lepas dari bibirnya. Ada Ummu Salamah yang cerdas, semangat berjuang dan sabar. Masih banyak lagi figure muslimah high class zaman dulu tapi kepribadiannya tak lekang oleh waktu. 

Muslimah berkelas itu adalah seorang muslimah yang kualitas imannya senantiasa terjaga dengan sifat MALUnya karna Allah. Malu jika kualitas ibadahnya turun, malu jika ia memamerkan auratnya, malu jika akhlaknya tak secantik dirinya. Karna muslimah berkelas itu tidak dilihat dari seberapa mahal pakaian atau harta yang menempel di tubuhnya melainkan seberapa mahal dirinya dari

Yuk Belajar bareng jadi muslimah High Class dari sekarang……  

Komentar