PR Menjaga Generasi 

Balikpapan, Senin 4 Januari 2020

Senin. Sebuah nama hari yang identik dengan kata "start", "sibuk, padat". Menjalaninya tentu ada senang, sedih, semua itu bergulir silih berganti dan rasa yang dominan muncul dari si empunya hati sesuai dengan kadar iman. Iya, IMAN.

Jika merasa sedih dan sepi, mungkin ia lupa ada Allah yang selalu perhatian lagi memperhatikan hamba-Nya. Jika ia terpuruk, mungkin ia lupa standard cukup dan standard kemuliaan seorang hamba yag hakiki di mata Allah. Jika bahagia, pastilah ia tahu mengeja syukur atas apa yang Allah berikan.

Bahagia berarti tulus. Tulus menerima apa yang ada dengan melihat sisi positif suatu hal.

Seperti hari ini, Senin pertamaku di 2021. Tak terasa tahun berganti. Membuka lembaran baru berharap menemukan kembali diriku yang lebih baik. Aku menyadari diri ini penuh kekurangan di tahun lalu. Tak ingin membuka borok yang telah sembuh, aku ingin memperbaiki. Ya memperbaiki diri dan mencoba berdamai dengan diri. Setidaknya menyelesaikan “My Unfinished Business”.

Mengawali hari dengan Basmallah kulangkahkan kaki keluar kontrakan. Kuhidupkan motorku dan mulai kumainkan gas menuju tempat tugasku sekaligus pengabdianku. Guru. Itulah profesi yang kini aku jalani.

Adalah hal yang tak mudah menjalankan tugas sebagai seorang pendidik di masa pandemi covid-19 ini. Bagaimana tidak? Sudah hampir satu tahun kami bergelut dengan pembelajaran virtual, mengobrak abrik metode pembelajaran, kesana kemari berlarian mencari media pembelajaran yang cocok hingga terseok mengikuti hampir puluhan webinar pendidikan. Kuakui mencari inovasi itu bukanlah hal semudah berkata A B C, terutama bagiku yang lebih banyak memakai otak kiri. Butuh waktu lebih lama untuk berinovasi. Merenung. Mencari inspirasi. Riset dan analisis. Mencipta. Mengkarya. Belum lagi melihat efisiensi dari berbagai sudut dan kelayakan.

Jangan lupa, sekarang era millennial, you know-lah kita gak terlepas dari teknologi. Semua serba canggih, bahkan menurut para pengamat pendidikan, guru dan pendidikan mengalami peningkatan terbesar dan terpesat di bidang IT terjadi pada masa covid-19 ini. Inilah salah satu hikmah yang terselip dibalik kesulitan. Guru yang hakikatnya seorang pembelajar sejati harus kembali menunjukkan taringnya. Tak peduli pendidik senior maupun junior mau tidak mau, suka tidak suka harus belajar dan dituntut kreatif dalam menggunakan pembelajaran secara daring. Disinilah kesenjangan tua-muda kurasa agak menepis. Terlihat indahnya kebersamaan satu sama lain ketika membagi ilmu dan mengajarkannya. Tak ada rasa  gengsi yang tua atas yang muda dalam hal menuntut ilmu dan yang muda merasa senang dapat membagikan ilmunya agar lebih berkah dan bermanfaat. Begitupun sebaliknya. Aku salut dan sangat bersyukur, ternyata di Indonesia banyak sekali guru-guru kreatif, inovatif dan cerdas serta memiliki semangat berbagi. Hal ini terlihat para guru di sosial media saling berbagi cara, media, dan cerita untuk membuat pembelajaran tidak membosankan, juga berbagi inspirasi untuk guru Indonesia. Aku sendiri sedang belajar banyak hal di masa covid-19 ini. Mencari cara baru yang lebih menyenangkan dan mendidik agar siswa merasa nyaman, bahagia dan semangat belajar walau jarak jauh.

Di tahun 2021 kita memasuki semester baru, yaitu semester genap. Itu artinya kita akan melewati 3 semester dengan kondisi special tak terduga. Satu tantangan besar bagiku khususnya dan bagi kami seorang guru pada umumnya, untuk mencari dan menemukan cara agar menjaga dan menumbuhkan kembali siswa yang berkarakter, berjiwa nasionalis, cerdas dan berbudaya. Ini menjadi PR kita bersama.

Ayo kita kerjasama dan bersatu untuk melawan covid19 dan menjaga generasi!

 

Komentar