Biarlah Mereka Berkata

Aprillia Tendry Ardiyanti (03 Oktober 2017)- EDISI CERPEN

Darmawan, itulah nama lengkapku. Orang-orang biasa memanggilku Darma. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ya, aku memang bukan orang yang pandai dalam merencanakan hidup. Waktu itu ayahku menyarankan menjadi dokter, polisi, atau pengusaha saat aku hendak memilih perguruan tinggi. Beliau memang memiliki banyak saham di perusahaan baik di dalam maupun di luar negeri. Eeittss…TAPI itu kan ayahku. Aku menolak apa yang beliau pilihkan. Aku hanya mengikuti apa yang aku mau. Bukan berarti aku anak sok tau, apalagi anak belagu. Tapi apa salahnya belajar mandiri? Iya nggak? Karena orang berkata hidup itu pilihan, hidup itu petualangan, hidup itu kebebasan, hidup itu belajar, hidup itu anugrah, hidup itu bla bla bla…

Dan bagiku hidup itu BERBAGI.

***

Pagi ini mentari tersenyum dan langit pun  terlihat ceria. Anak-anak juga tak mau kalah dengan memperlihatkan semangat belajarnya walau dengan kondisi sekitar yang kurang mendukung. Sekolah mereka kini tinggal bangunan rusak, bahkan hampir tak dikenali bahwa itu adalah sekolah tercinta mereka beberapa waktu lalu. Semua ini akibat banjir bandang yang terjadi di desa mereka tanpa adanya upaya perbaikan dari pihak pemerintah walau sudah 4 tahun berlalu. MEMPRIHATINKAN. Aku sungguh geram, bagaimana bisa mencerdaskan kehidupan bangsa jika pemerintah mengabaikan anak bangsa?  Hatiku semakin terluka saat kutanya cita-cita mereka. Apa yang mereka katakan?

“Pak guru, aku ingin menjadi pengamen.” kata salah satu anak dengan polosnya.

“Haahh! Jangan bercita-cita seperti itu! Bercita-cita itu yang baik. Pengamen bukanlah cita-cita! Mereka hanya orang yang tak memiliki pekerjaan tetapi ingin memperoleh uang, dan itu tidak baik.” Jawabku sangat terkejut dengan nada agak tinggi.

“Justru itu pak guru, Kiki ingin memperoleh uang tapi tak memiliki pekerjaan. Jadi Kiki harus mengumpulkan uang untuk memperbaiki sekolah. Kasihan adik Kiki sebentar lagi dia sekolah, tapi sekolah kita rusak.”

“………..”

Sungguh kalbu ini bagai tersengat listrik. Aku tak menyangka ada siswa yang berpikir sedemikian. Malu. Itu yang ada di benakku sebagai seorang pendidik. Siswa yang seharusnya menikmati masa belajar dan bermain, harus mengamen demi sepeser rupiah untuk membangun sekolah tercintanya. Tak sanggup aku membayangkan itu semua. Siapa yang patut disalahkan?

***

Lima belas menit. Tiga puluh menit. Satu jam. Haaaahhh…Aku menghela nafas panjang akhirnya. Sedari tadi aku hanya berbaring memejamkan mata tetapi kata-kata siswa itu terus terngiang dipikiranku. ‘What can I doing’ tanyaku dalam hati. Tiba-tiba terlintas ide ini di pikiranku. Entah berhasil atau tidak.

   

Temui aku minggu ini di taman kota. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.                                             

(Your son, Darmawan)

 

 

 


            Kopi memang sangat cocok menjadi teman di waktu hujan. Apalagi perjalanan yang memakan waktu hampir 6 jam yang aku tempuh dari desa menuju kota sangat melelahkan bagiku. Dengan kopi ini aku rasa bisa menjadi sedikit refleksi sambil menunggu seseorang. Berharap kedatanganku tidak sia-sia.

Selang beberapa menit kemudian tampak seseorang menuju ke arahku. Seseorang bertubuh besar tegap sambil membawa koper hitam, berpakaian rapi mengenakan jas dan kacamata hitam. Bak bodyguard di film Hollywood. Hahaha. Namun senyumku pudar seketika dia mendekat.

“Kau rupanya. Apa dia sesibuk ini hingga tidak bisa menemui anaknya?”

“Selamat siang tuan, maaf saya mendapat perintah menemui tuan karena bos besar ada keperluan di Swiss.”

“Aku perlu uang.” Pintaku to the point. “Berikan! Aku tak punya banyak waktu.”

“Tapi seperti kesepakatan sebelumnya. Kau tau bukan? Ke-se-pa-ka-tan sebelumnya, Tuan…”

“Aku muak dengan kesepakatan itu!! Apa kalian tidak tahu bahwa ada orang yang lebih membutuhkan uang itu ketimbang kalian?”kucengkram kuat kerah bajunya.“Katakan padanya, jika ia tak mau berubah maka uanglah yang akan menghancurkan hidupnya!”

Aku pun langsung meninggalkan pria itu. Hujan tak kupedulikan. Dinginnya air berharap dapat mendinginkan hati dan pikiran ini. Memang semenjak aku bulat dengan tekadku untuk menjadi seorang guru, sikap ayahku berubah 180 derajat. Tapi Aku tak ingin larut dengan masalah ini karena tujuan utamaku adalah mencari cara untuk membangun sekolah. Setelah itu aku melanjutkan perjalanan kembali ke desa.

***

“Sekarang kita akan belajar tentang seni rupa nusantara. Ada yang tau seperti apa contohnya?” Tanyaku memancing keaktifan para siswa.

“Saya! saya pak! Contohnya seperti bapak saya yang membuat tikar.”

“Saya juga pak. Kalau ibu saya membuat batik.”

“Kalau bapak saya buat kendi.”

Keramaian mulai terjadi di antara para siswa. Aku pun sering kali terkekeh karena jawaban mereka yang beragam. Suasana hari ini sangat mendukung, sejuk segar tapi tak menyilaukan. Ya, kami belajar di ruang terbuka hanya beralaskan terpal yang ditemani dengan papan tulis dan kapur serta buku-buku penunjang lainnya. Semua ala kadarnya. Tapi semangat kami tidak ala kadarnya. Hanya ada beberapa guru yang masih bertahan di sekolah ini. Dan aku yakin merekalah guru yang sebenarnya. Salah satunya Astri, dia adalah temanku satu kampus yang kebetulan di tugaskan di tempat yang sama.

“Ooo Darma, apa hendak ikam polah?” Astri menghampiriku. Dan aku hanya berbaring memandang langit yang biru. “hemmm bagus yaaa…sini capek molah bahan ajar, situ maka molor tarus kerjanya. Guru macam apa tuh.” Sindirnya.

“Ngomong-ngomong Tri, kamu pernah dengar tidak desa karya seni?”

“Desa karya seni? dimana itu?”

“Di pikiranku.”jawabku dengan santai.

“……” Astri menatap heran.

“Aku berpikir jika kita bisa menciptakan desa yang menghasilkan banyak karya seni, maka desa itu bisa maju dan tidak lagi menjadi daerah pedalaman bahkan menjadi objek wisata. Lalu dapat banyak penghasilan, memproduktifkan penduduknya. Dan bisa membangun sebuah sekolah serta fasilitas lainnya. Apalagi tadi para siswa mengatakan bahwa pekerjaan orangtuanya berasal dari kerajinan tangan. Setuju tidak?” Aku sangat antusias menyampaikan ideku tapi dia malah menganggapku guyon.

“Wahahahahahah emengnye di pikiranmu ada peri yang bisa membuat desa itu. Dar Dar lanjutkan aja mimpimu kalo udah selesai jangan lupa beresin terpalnya.” Sahutnya sambil berlalu.

***

            “If you can dream it, you can do it” (Walt Disney). Berani bermimpi berarti berani berbuat. Masih banyak lagi kata motivasi seputaran itu. Itu semua bukanlah hal yang mudah. Namun bukan berarti mustahil. Kali ini aku berusaha menyampaikan maksud pemikiranku kepada lurah setempat. Alhamdulillah beliau menyambut baik pemikiran itu.

Sebulan pun berlalu, aku masih sibuk mengkonsep dan merencanakan desa karya seni bersama pak lurah dan warga setempat mulai dari program karya yang akan dibuat, pendanaan, pemasaran, bahkan hingga prospek kedepannya. Kerjasama, kekompakan, rasa persaudaraan, saling percaya dan dapat dipercaya, komitmen, management dan lain sebagainya, Semua itu sangatlah diperlukan untuk melakukan suatu perubahan. Aku salut kepada mereka karena berani melakukan perubahan itu. Beginilah kehidupan di desa, rasa gotong royong masih sangat kental kurasa.

Enam bulan kemudian program karya seni sudah mulai ada yang berjalan.  Semua memanfaatkan pekerjaan dan kreativitas dari penduduk desa. Misalnya warga yang memiliki keahlian menjahit dan yang memiliki keahlian  membatik, maka akan bekerja sama untuk membuat berbagai pakaian batik yang dikemas dengan desain yang cantik agar tidak kalah dipasaran dan masih banyak contoh lainnya. Harapanku bisa memberdayakan warga di sini mulai terealisasi.

Dua tahun kemudian, pundi-pundi rupiah hasil karya seni desa kami mulai bisa dirasakan, uang itu kami fokuskan untuk membangun sekolah. Alhasil, mulai ada bagian yang diperbaiki. Ya, kami membangun desa bersama-sama. Bagiku kebahagiaan itu ketika kita bisa melihat senyuman dan tawa dari orang di sekitar kita. Dan itu aku temukan di desa ini.

***

Kring…kring…kring.” Alarm HPku berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 04.30. Berat sekali mata ini terbuka seperti ada lem perekat, mungkin efek terlalu lelah dengan aktivitas di desa akhir-akhir ini. ‘Ooh there is one massage’ dalam hatiku berkata. Seketika mataku membulat saat kutahu siapa pengirimnya. Perasaan senang dan siaga bercampur jadi satu. Ada apa gerangan beliau melakukan itu setelah sekian lama tak mau bertemu denganku semenjak aku memutuskan jadi seorang guru. Terselip firasat buruk. Kuharap bukan itu.

            Tak terasa hari itu tiba, setelah melewati perjalanan yang jauh dari desa menuju kota dan dilanjut dari bandara menuju kota kelahiranku akhirnya tibalah aku di depan sebuah gedung perkantoran yang megah. Tidak ada motor satu pun terlintas melainkan mobil-mobil mewah dengan merk ternama. Dua bodyguard berjalan di belakangku dan satu lagi di depanku menunjukkan jalan yang kurasa akan menuju pada ruang rapat. Membosankan. Aku sedari tadi dikelilingi oleh robot hidup. Kuajak bicara pun percuma, mereka berbicara seperti diprogram. Hah, inilah yang membuatku tidak nyaman berada di lingkungan ini. Semua selalu tegang dan berbau kompetisi. Senyum dan tawanya selalu ada makna tersembunyi, bukan sesuatu yang tulus seperti warga desa.  Tapi justru dari lingkungan inilah aku dibesarkan.

“Sudah tiba kau rupanya, aku harap kau tidak mengecewakanku kali ini”

“A-KU            tidak akan mengubah keputusanku!”

“Kesepakatannya tetap sama. Berhentilah menjadi guru, lanjutkan bisnis milik ayahmu ini. Maka kau akan mudah mendapatkan segalanya termasuk ….. seluruh saham di perusahaan ayah.”

“Apa alasanmu melakukan ini?”

“Mudah saja. Karena-”

“Apa anda MALU memiliki seorang anak dari PENGUSAHA KAYA yang berprofesi sebagai GURU ??! Apa ayah pikir segala sesuatu dapat dibeli dengan uang??? TIDAK ayah!  Pernahkah sehari saja ayah tidak memegang uang dan berbaur bersama orang-orang di desa? Di sanalah ayah akan menemukan rasa kedamaian yang sesungguhnya.”

“Apa kau tetap ingin hidup sengsara?”

“Jadi, serendah itukah pandangan ayah tentang seorang guru? (mataku mulai berkaca-kaca) Semestinya ayah ingat siapa yang mengajari kita membaca, menulis, mengenalkan dunia, siapa yang rela mengorbankan waktunya hari demi hari dan tidak pernah letih mendidik kita saat di sekolah, pernahkah guru bermuka masam di depan kita? Melainkan senyuman yang dia perlihatkan. Ayah, guru lah yang mencetak ayah menjadi seperti ini. Gurulah yang melahirkan seorang dokter, insinyur, pengusaha, arsitek, bahkan professor sekalipun. Guru itu pekerjaan yang mulia. Seorang guru memang tidak kaya harta tapi dia kaya nurani.”

            Suasana mendadak hening ketika itu. Bahkan suara detik jam ikut terdengar.  Aku hanya diam menunduk dan ayahku menatap lurus ke luar jendela.

“Sebentar lagi ada pergantian pengurusan perusahaan, ayah hanya ingin kau tampil hebat sebagai pengusaha agar keluarga kita tidak dipermalukan di depan publik.”Ayah memulai pembicaraan dengan nada datar.

“Sudah kuduga. Maaf ayah. (Hening sesaat) Tapi…… (Kedua bola matanya pun terbuka, tatapannya tajam dengan senyum beribu makna) aku pikir itu mungkin saja...”

“Apa maksudmu?!!! ”

***

Lima tahun kemudian

Banyak tumpukan berkas di meja yang harus kutandatangani. Sebenarnya aku cukup pusing melihat semua itu. Belum lagi dengan jadwal yang padat, sehingga aku harus bisa menyesuaikan waktu antara ini dan itu. Ya, sekarang aku mendirikan yayasan pendidikan. Aku mendirikan sekolah mulai dari TK hingga SMA. Selain itu aku juga mendirikan TPA dan Rumah les privat. Akhirnya aku tidak akan melihat muridku mengamen demi membangun sekolahnya, cukuplah ia belajar agar bisa membangun bangsanya.

“Pak guru!”

Aku mencari sumber suara itu dan ternyata dia adalah Kiki, murid SD ku dulu yang sekarang ia sedang menempuh pendidikan SMA. Dia tetap memanggilku guru walaupun itu sudah beberapa tahun yang lalu. Itulah yang aku suka dari guru, selalu ada penghargaan dari hati. Walau usianya masih belia tetapi ia memiliki peran penting dalam membangun desa ini. Sekarang desa itu bukanlah desa pedalaman seperti yang aku kenal ketika itu, tetapi menjadi desa pusat karya seni di kabupaten kami. Tak pernah sepi pengunjung setiap harinya. Aku bangga dengan mereka yang berani melakukan perubahan.

Ada apa Ki?” tanyaku sambil menghampirinya.

“Ada seseorang yang ingin menemui pak guru katanya. Saat ini dia ada di sudut desa  melihat pernak-pernik seni pahat.”

Seeett! Tiba-tiba pikiranku langsung mengarah kepada seseorang yang telah lama tidak aku jumpai. Lari. Aku berlari secepat mungkin berharap tidak kehilangan sosoknya. Aku ingin meminta maaf atas segala hal.

“Ayah!”

“Darma, lihatlah kemari! apa patung ini pantas untuk dipajang di mejaku?”

“Apa yang ayah lakukan disini?”

“Memangnya kenapa? aku hanya ingin merasakan suasana di desa. Oh ya belikan ayah patung yang ini, dompetku ketinggalan di mobil. Hehehe.”

Seketika kupeluk erat ayahku. Tak mampu kutahan airmata bahagiaku. Inilah sosok ayah yang aku rindukan selama ini kembali hadir di hadapanku. Setelah hampir dua belas tahun bagai kehilangan rasa kasih sayang dari seorang ayah. Berkat ridhonya kini aku berhasil menjadi pengusaha. Ya, pengusaha di bidang pendidikan. Sedangkan perusahaan ayah diambil alih oleh kakakku. Ini seperti yang kuharapkan.

Bagiku hidup itu berbagi. Jika aku memiliki ilmu maka ilmulah yang aku bagi. Jika aku memiliki harta maka harta yang aku bagi. Jika aku memiliki kisah inspiratif maka itu juga yang kubagikan pada kalian. Sebab aku pernah mendengar bahwa sebaik-baik manusia dialah yang bermanfaat. Jadi kawan, hidup itu apa menurut kalian? Write your own history.

Ketika kita ingin sampai ke puncak gunung demi mendapati panorama yang indah, maka terlebih dahulu kita akan melewati tebing, juram, tanjakan, dan semua itu menjadi cerita ketika kita sampai di puncaknya. Itulah ibarat hidup ini. Don’t give up but Up your give! Banyak orang yang mentertawakan mimpi kita, tak jarang bahkan mencemooh. Jangan sedih tetapi buktikan kau mampu dan biarlah mereka berkata.

~THE END~

Komentar